#Storyline Buatan Pengguna

Ulya Sunani Ulya Sunani | 7 Feb, 2025

Dari Makam Sunan Ampel


Ini tempat yang bagi saya, penting. Beberapa kali saya ke sini, di makam sunan Ampel, Surabaya.

Di banding makam-makam wali songo, di Ampel saya lebih sering. Meskipun, kalau dari kampung secara letak lokasi agak jauh dibanding: ke makan sunan Kalijaga di Pati, Sunan Kudus, ke makam sunan Bonang di Tuban, atau ke sunan Gresik di makam Malik Ibrahim.

Ada beberapa peristiwa. Pernah saya gagal menaklukkan Surabaya untuk kerja di sana, larinya saya berziarah di makam sunan Ampel. Menurut saya lebih nyaman saja. Padahal, di area ini terkenal juga banyak orang nakal: pencuri terutama dompet, pada masanya banyak. Tapi saya tak pernah mengalami, hanya cerita, atau pesan para pedagang di sekitar area makam, “hati-hati di sini, terutama dompet. Simpan di depan.”

Suatu ketika, saya juga pernah bermalam. Tepatnya di area makam: di samping masjid, karena di dalam masjid ada larangan. Bukan hanya saya bertiga—dengan dua teman--, tapi pada saat itu banyak sekali orang bermalam di area sekitaran masjid, di lantai paving block.

Maka, saya bisa bercerita bagaimana suasana malam di makam sunan Ampel. Kalau Anda pernah berkunjung di sini, pasti sudah tahu makam ini tak pernah sepi oleh penziarah. Rombongan maupun perorangan, selalu banyak orang. Pun malamnya: lantunan ayat suci, tak pernah berhenti. Apalagi malam Jumat, yasin tahlil akan terus terlantun, bahkan hingga dini hari.

Baru-baru saya berziarah bersama keluarga di sini. Dari pintu gerbang, seperti biasa kita akan disambut dengan jejeran pedagang: makanan dan oleh-oleh. Kemudian kita akan dapati masjid Ampel terlebih dahulu, baru di belakangnya, makam sunan Ampel berada. Di sekelilingnya, banyak sekali makam, terkesan memang area pekuburan. Tapi bersih.

Untuk di dalam masjid dengan tiang dan ornamen kayu ini, dulu ada air dalam kendi. Tempatnya, berjejer di depan saf paling depan. Saya sempat meminumnya, berdasarkan arahan salah seorang kenalan di sana.

Untuk air siap minum ini, ada juga di area makam. Pas, ketika Anda baru memasuki area makam ada gentong, nah di situ. Beberapa orang juga memakainya untuk mencuci muka, secukupnya. Anda tentu sudah tahu maksudnya. Setelah sekian tahun: saya meminum lagi air Ampel. Sejuk sekali.

Seperti pemandangan tahun-tahun sebelumnya, para penziarah yang mengaji di area makam tak pernah sepi. Segala macam model penziarah ada: dari rombongan majelis taklim, para santri, atau yang berpakaian kejawen dengan blangkon.

Area di sekitar makam sunan Ampel--setelah kita memasuki pintu gerbangnya--menurut saya lebih bersih. Bangunan samping makam masih ada, dan makam-makam yang mengelilingi sunan Ampel, sudah di keramik hanya menyisakan lubang di antara pusara. Saya pernah dapati area ini masih paving block.

Saya mengaji, tapi tak bisa mendekat ke makam berpagar milik sunan Ampel, karena di depan sudah penuh dengan jamaah. Mereka mengaji semua. Dan si bungsu—saking nyamannya—ambil buku gambar di tasnya, menggambar di dekat pusara makam.

Dari ini—banyaknya penziarah—menandakan bahwa sunan Ampel sudah menjadi milik publik. Tak ada batasan-batasan berziarah. Kalau pernah berziarah di makam wali pitu maupun ulama di Sulsel, Anda akan tahu apa yang saya maksud.

Berdasarkan catatan Tome Pires dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa oleh De Graaf dan Pigeaud, ia menyebut sunan Ngampel Denta—kini disebut sunan Ampel-- wafat tidak lama sebelum runtuhnya kerajaan Majapahit. Tepatnya pada tahun 1527. Sunan Ampel, wali yang diangkat sebagai imam masjid di Surabaya oleh seorang pecat tandha di Terung—penguasa raja di bidang perdagangan—yang disebut Aria Sena.

Raden Rahmat yang bergelar sunan Ampel banyak sekali anaknya. Beliau juga berkerabat dengan pemimpin duniawi dan rohani di Jawa Timur dan Jawa Tengah melalui pernikahan. Sunan pertama di Giri dan raja pertama di Demak, Raden Patah adalah menantunya. Dan sunan Bonang di Tuban adalah anak sulungnya.

Sunan Ampel dianggap wali tertua di Jawa. Meskipun makamnya, tidak diberi cungkup, seperti biasa yang terdapat pada makam-makam orang penting. Dalam cerita Jawa, bahwa hal itu menjadi kehendak sang sunan sendiri.

Pertanda, sunan Ampel tidak membentuk dinasti pemimpin agama; jadi berbeda dengan sunan Giri dan sunan Gunung Jati. Dicantumkannya namanya dalam Sadjarah Dalem itu karena, menurut garis keturunan ibu, ia merupakan moyang sunan Kudus, yang keturunannya—juga menurut garis ibu—masih bertalian keluarga dengan keluarga Raja Mataram.

Hal inilah—tak membentuk dinasti pemimpin agama--, yang menjadikan sunan Ampel, menjadi milik publik.

Dengan antusiasme masyarakat berziarah, bisa Anda bayangkan berapa ratus ribu orang yang terhidupi: para pedagang, pangusaha angkutan, tukang becak, tukang sapu jalanan dan seterusnya. Dan, lingkungan sekitar juga ikut terjaga kebersihannya.

Pertanyaan, apa sebenarnya yang dilakukan sang sunan, sehingga kebermanfaatannya bisa dirasakan hingga kini? Bukan saja kepada Surabaya, atau untuk mereka saja yang agamis.

Bukti ini, sunan atau wali, bukan hanya gelar semata yang tak memberi apa-apa, tapi membawa dampak baik kepada warga masyarakat, kepada siapa saja, bahkan juga kepada alam semesta.

Alfatihah, kepada para perintis, pejuang, dan kepada siapa saja yang mengabdikan diri untuk memperbaiki masyarakat.

Tim Editorial

Nadhorul Anam Nadhorul Anam

Comments

You must be logged in to post a comment.

Baca Juga
Tentang Penulis

Orang Rembang warga Maros

Trending Di Komunitas